Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Architecture of Gunadarma University. My Dream = Senior Architect!!! :')
Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 21 Juni 2015

REVIEW FILM FILOSOFI KOPI



Bima Haryadi, Film Filosofi Kopi, Bioskop 2015, Top Film Indonesia


Sutradara

Produser

Pemeran

Studio

Durasi
117 menit

Negara

Bahasa





- R E V I E W -


Siapa yang tidak suka minum kopi sambil bercengkrama bersama kerabat pada malam hari? Ya, bila orang barat punya kebiasaan nongkrong sambil minum bir (yang mana kita juga sudah mulai ketularan), orang Indonesia punya warung kopi dan segala keriuhan di dalamnya.

Lewat kopi, saya dan banyak orang telah dipertemukan. Begitu juga dengan tiga karakter dalam Filosofi Kopi yaitu: Ben (Chicco Jericko), Jody (Rio Dewanto), dan El (Julie Estelle).

Ben dan Jody sudah berteman sejak lama. Karena sebuah tragedi di masa lalu, Ben memutuskan untuk merantau ke Jakarta di mana ia diangkat sebagai anak oleh bapak Jody. Ben yang memang gemar belajar tentang ilmu kopi, membuka sebuah kedai kopi bersama Jody, di mana ia berperan sebagai sang barista, sementara Ben sebagai pengusahanya.

Masalah hadir saat utang mulai melilit dan kedai kopi Ben dan Jody terancam ditutup. Namun, secercah harapan muncul ketika Ben mendapat tantangan untuk membuat kopi terenak se-Jakarta oleh seseorang yang misterius. Ganjarannya? Cukup besar untuk membebaskan mereka dari semua masalah. Namun jika gagal malah membuat keadaan makin runyam. Eksperimen Ben dalam membuat kopi terenak kembali mendapat ujian lagi saat El, seorang wanita yang tengah menulis buku mengenai kopi, mengatakan bahwa kopi bikinan Ben bukanlah yang terbaik.

Bima Haryadi, Film Filosofi Kopi, Top Film Indonesia 2015, Bioskop Indonesia

Filosofi Kopi cukup cepat untuk membeberkan semua konflik utamanya. Mulai dari bagaimana berbedanya prinsip antara Ben dan Jody adalah sebuah bom waktu dalam hubungan mereka hingga ke pokok plot yang sudah saya tulis di atas, muncul dalam bagian awal durasinya.

Setelah semuanya terbuka, barulah film berani mengeksplorasi filosofi dari tiap karakternya, sama seperti Ben membuka film ini dengan filosofi tiap kopi yang diraciknya.

Bila sepertiga awal film terasa penuh komedi, maka di bagian dua per tiganya terasa perubahan menuju drama. Ben, Jody, dan El memiliki masa lalu tersendiri. Efek dari masa lalu itulah yang membentuk mereka dan menaruh mereka ke jalur hidup yang kini sedang mereka tempuh. Kurang lebih, sama seperti kopi sendiri. Dari awal biji kopi ditanam hingga ke proses pembuatannya, menentukan rasa apa yang nantinya bisa dicicipi penikmatnya.

Bima Haryadi, Film Filosofi Kopi, Top Film Indonesia 2015, Bioskop Indonesia
  

Sayangnya, tidak semua karakter memiliki filosofi yang cukup menarik dan penting untuk disimak. Malah, hanya Ben yang memiliki cerita layak didengar. Jody dan El sendiri tidak memiliki masalah yang relevan dan mudah untuk diterima. Malah, khusus untuk El, ceritanya terlalu terasa difabrikasi. Kemungkinan besar karena karakternya sendiri memang tidak ada di buku aslinya.

Namun, itu yang saya rasakan ketika Jody dan El mulai bertutur. Alur Filosofi Kopi yang dibangun rapi mendadak menjadi terasa begitu membosankan dan terlalu diulur-ulur. Untungnya, hal itu tidak berlangsung lama. Karena ketika Ben kembali ke layar, film kembali berada di jalur yang benar.

Eksekusi adegan terakhir juga terasa sedikit terburu-buru, sangat terasa ketika tempo film cenderung stabil sepanjang durasi 117 menitnya.

Namun, selain dua hal tersebut, saya benar-benar menyukai Filosofi Kopi. Meski menjadi buku Dee Lestari terakhir yang diadaptasi ke medium film Filosofi Kopi jelas adalah yang terbaik dari adaptasi tulisan Dee lainnya. Dengan kualitas produksi yang berada jauh di atas koleganya hingga kemampuan para aktor di layarnya yang mumpuni, Filosofi Kopi akan berakhir sebagai salah satu film Indonesia terbaik tahun ini.

Bima Haryadi, Film Filosofi Kopi, Top Film Indonesia 2015, Bioskop Indonesia


Di tangan Angga Dwi Sasongko (Cahaya Dari Timur) kalian akan menemukan banyak adegan-adegan cantik mulai dari aktivitas di kedai kopi hingga pemandangan kebun kopi. Tiap shot-nya terasa mahal dan elegan meski sederhana dan tanpa harus menghabiskan kocek banyak a la film produksi Soraya.

Angga juga jago untuk dalam bercerita dan memaparkan karakternya tanpa harus frontal dan penuh lisan. Hal ini tentunya juga didukung oleh kemampuan dari Chicco Jericho yang kembali tampil brilian di sini. Lewat gesturnya membuang rokok saja sudah menggambarkan banyak tentang karakternya. Atau Rio Dewanto dengan ekspresinya yang kalem dan penuh kecemasan setiap saat menggambarkan betapa karakternya melakukan banyak perhitungan tiap langkah yang diambilnya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About