Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Architecture of Gunadarma University. My Dream = Senior Architect!!! :')
Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 12 Mei 2018

KONSERVASI ARSITEKTUR - BAB 3


BAB 3
GAMBARAN KAWASAN DAN BANGUNAN
CAGAR BUDAYA

3.1. Konsep dan Bentuk Arsitektur Museum Tekstil Jakarta


Gambar 3.1. Tampak Depan Maket Museum Tekstil Jakarta
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018

Pemerintah DKI Inti dari bangunan yang sekarang ditempati Museum Tekstil dibangun pada awal abad ke-19 oleh seorang berkebangsaan Perancis dan kemudian dijual kepada Abdul Aziz Al Mussawi Katiri Konsul Turki di Jakarta. Pada tahun 1942 properti itu dijual kepada Dr Karel Christian Crucq dan pada awal 1945 digunakan sebagai markas dari "Perintis Front Pemuda" dan Angkatan Pertahanan Sipil dalam perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan Indonesia. Untuk alasan yang terakhir ini, bangunan ini terdaftar sebagai monumen bersejarah.
Pada tahun 1947 properti berada dibawah kepemilikan Lie Sion Pin yang menyewakannya kepada Departemen Sosial yang menggunakannya untuk sebuah lembaga bagi orang tua. Pada tahun 1962, properti ini diakuisisi oleh Departemen Sosial. Awalnya digunakan sebagai kantor, kemudian dirubah menjadi sebuah asrama karyawan pada tahun 1966. Akhirnya pada tahun 1975, secara resmi diserahkan kepada PemJakarta Kota oleh Menteri Sosial. Gubernur Ali Sadikin memutuskan bahwa kebutuhan untuk dilestarikan tradisi tekstil Indonesia lebih besar dari kebutuhan kota untuk ruang penyimpanan arsip, yang bangunan ini telah dialokasikan dan lahirlah Museum Tekstil. Kemudian pada tanggal 28 Juni 1976 diresmikan penggunaannya oleh Ibu Tien Soeharto sebagai Museum Tekstil
        Gambar 3.2.. Batu Peresmian Museum Tekstil
      Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018
     


Sumber: Data Analisa, 2018

Museum Tekstil Jakarta adalah bangunan bergaya indische. Gaya indische adalah gaya arsitektur yang berkembang di Hindia Belanda kolonial (sekarang Indonesia) antara pertengahan abad ke-18 dan akhir abad ke-19. Gaya ini merupakan imitasi gaya kekaisaran neoklasik yang populer di abad pertengahan abad ke-19. Sesuai dengan setting tropis Indonesia, gaya tersebut dikenal di Hindia Belanda sebagai gaya Kekaisaran Hindia.

Karakter bangunan bergaya indische diantaranya:
  • Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi depan dan belakang (ruang makan), dan didalamnya terdapat serambi tengah menuju ruang tidur dan kamar-kamar lainnya.
  • Pilar menjulang ke atas gaya Yunani dan terdapat gevel (mahkota) di atas serambi depan dan belakang.
  • Menggunakan atap perisai.

      Gambar 3.4.. Analisa Bentuk Blokplan
Sumber: Data Analisa, 2018

Bentuk Museum Tekstil Jakarta jika diliat dari tampak atas akan terlihat simetris. Dimana pada bagian kiri merupakan bangunan lama dan pada bagian kiri merupakan bangunan baru. Bentuk simetris tersebut di analisa dengan menggambar blokplan area Museum Tekstil Jakarta, lalu meletakkan sumbu atau garis bantu pada bagian tengah bangunan lama. Dengan demikian bentuk bangunan lama Museum Tekstil Jakarta ini akan terlihat simetris dan seimbang.
Lalu bentuk atap pada keseluruhan area Museum Tekstil Jakarta ini menggunakan penutup atap perisai yang merupakan gaya indische atau arsitektur Hindia Belanda.

Arsitek Belanda melakukan berbagai pendekatan untuk perancangan arsitektur di Hindia Belanda. Selain unsur-unsur tropis, juga memasukkan unsur-unsur tradisional Indonesia. Beberapa inovasi dalam desain menanggapi iklim tropis adalah:
1.      membuat beranda terbuka di depan, belakang, atau sekeliling bangunan.
2.      overhang yang lebar untuk melindungi permukaan dinding dan jendela dari sinar matahari langsung dan hujan.
3.      ketinggian plafon 4m dan ventilasi alamiah diatas pintu dan jendela.
4.      taman tropis dengan pepohonan yang cukup.

 

3.2.. Jenis Aktivitas dan Ruang di Museum Tekstil Jakarta

Selain memamerkan koleksi pertekstilan, di museum ini juga terdapat sebuah taman di halaman belakang yang diberi nama Taman Pewarna Alam. Taman seluas 2.000 meter persegi ini berisi pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam. Penanaman pohon-pohon itu bertujuan mendidik masyarakat agar mengenal dan mengetahui pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam. Keistimewaan lainnya yang terdapat di museum ini adalah kursus membatik. Kursus ini dilaksanakan bersamaan dengan hari-hari buka museum.
  
Gambar 3.5.. Taman Pewarna Alam
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018


Gambar 3.6.. Sirkulasi Aktivitas Pengunjung
Sumber: Data Analisa, 2018

Aktivitas yang dapat dilakukan di Museum Tekstil Jakarta diantaranya (1) menikmati area hijau yang berada di taman bagian depan gedung utama, dengan bentuk landscape yang tertata rapih, lalu dilanjutkan dengan menuju ke gedung utama yang berhadapan langsung dengan taman bagian depan, dimana didalam gedung utama ini pengunjung dapat menikmati pameran yang diadakan oleh Museum Tekstil Jakarta atau bisa juga pleh event-event tertentu. (2) Pengunjung bisa menuju ke gedung galeri batik. Didalam gedung ini pengunjung bisa melihat-lihat koleksi batik khas dari berbagai Provinsi-provinsi di Indonesia. (3) Lalu dibagian belakang Gedung Utama, terdapat taman pewarna alam. Di taman ini terdapat aktivitas membatik dengan nuansa di area terbuka (outdoor). (4) Di dalam gedung ini terdapat fasilitas pendukung, yang dapat digunakan sebagai tempat untuk membaca (perpustakaan), menonton film-film tentang membatik (mini-theater), mengadakan seminar (auditorium), serta bisa diajak ke ruang pengenalan wastra.
(5) Di area outdoor ini, merupakan area untuk bersantai menikmati sejuknya area taman ini yang dilengkapi oleh fasilitas internet hotspot. (6) tempat ibadah juga disediakan di Museum Tekstil Jakarta ini, terdapat musholla di dekat area taman internet hotspot. (7) Dan Kursus membuat batik yang dilaksanakan di sebuah bangunan yang terletak di halaman paling belakang Museum Tekstil. Bangunan ini bergaya rumah panggung lebar yang tak mempunyai sekat di dalamnya. Semua bahan bangunannya terbuat dari kayu dengan cat berwarna coklat tua. Di ruangan ini tidak terdapat pendingin ruangan (AC), karena telah terdapat beberapa jendela yang mengelilingi ruangan untuk mengalirkan udara segar.

3.3. Ruang-ruang di Museum Tekstil Jakarta

Museum ini secara khusus menangani pengumpulan, pengawetan dan pameran, serta mengembangkan konsep edukatif-rekreatif dengan ditunjang berbagai fasilitas publik seperti: gedung utama pameran sebagai ruang display, galeri batik, taman pewarna alam, pendopo kreativitas, ruang penyimpanan dan perawatan koleksi, perpustakaan, auditorium, toko cinderamata, mushola serta lahan parkir yang luas.

3.3.1. Gedung Utama

  
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018
Gedung utama atau yang sering disebut ruang display ini merupakan gedung yang terletak di tengah Museum Tekstil Jakarta dan sekaligus juga merupakan bangunan terbesar di museum ini. Sesuai dengan namanya, gedung ini digunakan sebagai tempat pameran tekstil Indonesia, baik yang merupakan koleksi museum, koleksi para desainer, maupun milik masyarakat pecinta tekstil. Koleksi pameran di gedung ini selalu mengalami rotasi secara berkala, sehingga Anda akan menemukan nuansa yang berbeda setiap Anda mengunjungi museum ini.
            
Gambar 3.8..  Interior Gedung Utama Museum Tekstil Jakarta

Ruang Display digunakan untuk memamerkan tekstil Indonesia, baik koleksi museum, koleksi para desainer maupun masyarakat pecinta tekstil. Display disajikan dalam ruang terbuka, mengundang pengunjung untuk melihat, dan mengeksplorasi koleksi secara lebih dekat, menciptakan hubungan yang erat dengan tekstil Indonesia.



3.3.2. Ruang Galeri Batik



Gambar 3.9. Gedung Galeri Batik
                   Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018

Pengakuan batik sebagai warisan dunia oleh UNESCO merupakan tonggak sejarah mengapa bangunan ini didirikan. Galeri ini diresmikan tepat setahun setalah UNESCO mengakui batik, yakni pada 2 Oktober 2010. Galeri ini dirancang untuk menampilkan sejumlah batik kuno dan batik perkembangan (kontemporer) dari masa ke masa. Galeri batik sendiri merupakan cikal bakal Museum Batik Nasional yang dikelola oleh Yayasan Batik Indonesia dan Museum Tekstil Jakarta. Jangan mengaku cinta batik kalau berkunjung ke Galeri Batik Museum Tekstil Jakarta.

          
Gambar 3.10.. Interior Galeri Batik

Galeri Batik (Batik Gallery) menampilkan sejumlah batik kuno dan batik perkembangan dari masa ke masa ini merupakan embrio Museum Batik Nasional yang dikelola oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI) bekerja sama dengan Museum Tekstil.

3.3.3. Natural Dye Garden (Taman Pewarna Alam)

Gambar 3.11.. Taman Pewarna Alam
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018

Kemudian, ada juga taman dengan luas 2000 m² yang terletak dibelakang gedung utama berfungsi untuk melestarikan dan mengenalkan kepada pecinta tekstil tentang pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam.
Pengetahuan tentang flora dapat Anda temukan di sini., taman ini memberikan pengetahuan Anda mengenai berbagai tumbuhan penghasil warna untuk kain tradisional. Sebut saja, African Tulip Tree, Caesarweed, dan lain sebagainya. Taman ini terletak di belakang Gedung Utama dan biasanya digunakan sebagai tempat penyelanggaran event-event outdoor Museum Tekstil Jakarta.

3.3.4. Pendopo Batik

Sedangkan, pendopo kreativitas berada di timur laut dari bangunan utama Museum Tekstil, dan berada di belakang dari kompleks museum ini. Pendopo ini biasanya digunakan untuk menggelar berbagai kursus maupun pelatihan. Pelatihan batik adalah salah satu pelatihan yang paling diminati oleh sebagian masyarakat.
            
Gambar 3.12.. Eksterior Pendopo Batik
  Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018

Mereka yang telah mengikuti pelatihan batik di museum telah mampu mengembangkan karyanya dengan lebih professional selain sebagai hobi. Selain pelatihan batik, tersedia juga kursus pewarna alam, aplikasi payet, silk painting, T-Shirt painting, sulam pita dan kreasi mencipta motif kain di atas gerabah.

3.3.5. Ruang Penyimpanan

Ruang Penyimpanan dan Perawatan Koleksi berada di belakang bangunan utama museum ini atau tepatnya setelah Taman Pewarna Alami. Ruangan ini berfungsi untuk menyimpan dan merawat koleksi yang dimiliki oleh Museum Tekstil.
Gambar 3.13.. Maket Gedung Ruang Penyimpanan
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018

3.3.6. Perpustakaan

Ruang perpustakaan disediakan untuk pengunjung sebagai proses pembelajaran tekstil Indonesia, dengan koleksi buku-buku tekstil yang cukup lengkap. Ruang perpustakaan menghadap ke Taman Pewarna Alam.

3.3.7. Toko Souvenir

Toko Cinderamata merupakan sarana bagi pengunjung untuk memperoleh cinderamata yang dapat dijadikan busana dan aksesorinya sesuai kebutuhan. Letaknya di depan Pendopo Batik. Tempat ini merupakan sarana bagi Anda untuk memperoleh cinderamata berupa kain, busana, aksesoris, peralatan untuk membatik, dan berbagai buku-buku tentang wastra.

3.3.8. Laboratorium

Sebagai lembaga konservatif-preservatif tekstil tradisional Indonesia, Museum Tekstil Jakarta memberikan layanan untuk perbaikan kain tradisional.

3.3.9. Internet Hotspot

Museum Tekstil Jakarta menyediakan titik area hotspot gratis bagi pengunjung yang datang.

3.3.10. Ruang Pengenalan Wastra, Auditorium, dan Mini-Theater

          
Gambar 3.14.. Gedung Fasilitas Pendukung
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018

Terletak di sebelah perpustakan. Ruangan pengenalan wastra ini menyajikan koleksi alat tenun dari berbagai daerah dan berbagai informasi mengenai bahan baku serta proses pembuatan kain tradisional Indonesia. Ruang ini juga dapat memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mencoba mengoperasikan alat tenun.

3.3.11. Kebun Serat

Taman kecil ini memiliki beberapa jenis tanaman penghasil serat yang dapat digunakan dalam tenun tradisional Indonesia.

3.3.12. Area Parkir

Area parkir tersedia untuk pengunjung yang menggunakan kendaraan sepeda motor, mobil, serta bus jika pngunjung datang bersama rombongan.
Dari data dan deskripsi ruang yang telah di dapat, dibawah ini merupakan tabel rangkuman ruang-ruang yang tersedia di Museum Tekstil Jakarta:







Jumat, 11 Mei 2018

KONSERVASI ARSITEKTUR - BAB 2


BAB 2
KAJIAN PUSTAKA

2.1.  TINJAUAN LOKASI
MuseumTekstil dibangun pada abad ke-19, yang awalnya adalah sebagai Landhuis (villa) milik orang Perancis yang tinggal di Batavia. Kemudian dibeli oleh Abdul Aziz Mussawi Alkatiri, Konsul Turki di Batavia. Lalu pada tahun 1942, bangunan ini dijual lagi kepada Dr. Karel Christian Crucg.
Museum ini terletak di Jalan Aipda Karel Sasuit Tubun No. 2-4 Kelurahan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi museum ini, tepatnya berada di sebelah barat Kompleks Pertokoan Tanah Abang yang menuju arah Slipi.Keberadaan Museum Tekstil ini didasari pada keinginan untuk mengoleksi dan memperkenalkan aneka ragam tekstil tradisional Indonesia, yang merupakan salah satu negara terbesar penghasil tekstil tradisional.
Galeri batik museum tekstil ini diresmikan tanggal 2 Oktober 2010 yang merupakan langkah awal dalam mewujudkan keinginan untuk memiliki Museum Batik di Jakarta, keberadaan Galeri Batik ini yang merupakan embrio Museum Batik diharapkan dapat memberikan kebanggan bagi masyarakat Indonesia, dan menjadi salah satu pusat informasi perbatikan, dan menjadi tujuan wisata budaya.
Di Museum Tekstil Jakarta terdapat berberapa komplek bangunan yang salah satunya adalah Galeri Batik. Bangunan ini memiliki konsep yang kuat sebagai sebuah galeri. Rancangan interior display yang terkesan modern dengan kombinasi bangunan bersejarah menjadi konsep dalam galeri ini. Galeri Batik adalah bangunan bergaya indische yang berada di dalam komplek bangunan cagar budaya Museum Tekstil. Eksisting Galeri batik terdiri dari 1 Lantai dan memanjang. Main Entrance Galeri batik ini terdapat sebuah meja receptionis dan ukiran kayu bernuansa batik, dan sangat menarik perhatian bagi pengunjung.
Berikut ini merupakan gambar lokasi Museum Tekstil Jakarta.

Gambar 3.1. Lokasi Museum Tekstil Jakarta
Sumber: foto pribadi


Gambar 3.2. Peta Lokasi Museum Tekstil Jakarta

Museum ini secara khusus menangani pengumpulan, pengawetan dan pameran, serta mengembangkan konsep edukatif-rekreatif dengan ditunjang berbagai fasilitas publik seperti: gedung utama pameran sebagai ruang display, galeri batik, taman pewarna alam, pendopo kreativitas, ruang penyimpanan dan perawatan koleksi, perpustakaan, auditorium, toko cinderamata, mushola serta lahan parkir yang luas.
Ruang Display digunakan untuk memamerkan tekstil Indonesia, baik koleksi museum, koleksi para desainer maupun masyarakat pecinta tekstil. Display disajikan dalam ruang terbuka, mengundang pengunjung untuk melihat, dan mengeksplorasi koleksi secara lebih dekat, menciptakan hubungan yang erat dengan tekstil Indonesia. Galeri Batik (Batik Gallery) menampilkan sejumlah batik kuno dan batik perkembangan dari masa ke masa ini merupakan embrio Museum Batik Nasional yang dikelola oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI) bekerja sama dengan Museum Tekstil. Kemudian, ada juga taman dengan luas 2000 m² yang terletak dibelakang gedung utama berfungsi untuk melestarikan dan mengenalkan kepada pecinta tekstil tentang pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam. Sedangkan, pendopo kreativitas berada di timur laut dari bangunan utama Museum Tekstil, dan berada di belakang dari kompleks museum ini. Pendopo ini biasanya digunakan untuk menggelar berbagai kursus maupun pelatihan. Pelatihan batik adalah salah satu pelatihan yang paling diminati oleh sebagian masyarakat. Mereka yang telah mengikuti pelatihan batik di museum telah mampu mengembangkan karyanya dengan lebih professional selain sebagai hobi. Selain pelatihan batik, tersedia juga kursus pewarna alam, aplikasi payet, silk painting, T-Shirt painting, sulam pita dan kreasi mencipta motif kain di atas gerabah. Ruang Penyimpanan dan Perawatan Koleksi berada di belakang bangunan utama museum ini atau tepatnya setelah Taman Pewarna Alami. Ruangan ini berfungsi untuk menyimpan dan merawat koleksi yang dimiliki oleh Museum Tekstil. Ruang perpustakaan disediakan untuk pengunjung sebagai proses pembelajaran tekstil Indonesia, dengan koleksi buku-buku tekstil yang cukup lengkap. Ruang perpustakaan menghadap ke Taman Pewarna Alam.
Toko Cinderamata merupakan sarana bagi pengunjung untuk memperoleh cinderamata yang dapat dijadikan busana dan aksesorinya sesuai kebutuhan. Aktivitas Museum Tekstil ini tergolong “hidup” bila dibandingkan dengan keberadaan museum lainnya yang ada di Indonesia. Denyut nadi aktivitas museum ini ditandai dengan adanya agenda Museum Tekstil yang relatif tetap dan rutin.




2.2.   MUSEUM TEKSTIL JAKARTA


 Gambar 4.1. Gedung utama museum tekstil jakarta

Museum tekstil mempunyai fungsi menyimpan, memamerkan, mendokumentasikan, merawat, serta mengembangkan hasil tekstil bangsa Indonesia dari berbagai daerah di kawasan Nusantara. Museum Tekstil Jakarta merupakan lembaga pendidikan kebudayaan, memiliki misi untuk melestarikan tekstil tradisional. Tekstil selalu menjadi bagian penting dari kehidupan di Indonesia sebagai bagian dari pakaian dan sebagai obyek ritual dan seremonial. Mereka merupakan aspek yang sangat kaya budaya Indonesia dan bukti dari tingkat keahlian teknologi dan keterampilan artistik dicapai oleh pembuat mereka. Mereka juga menyediakan jendela ke sejarah lokal. Dalam itu upaya untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap tradisi tekstil Indonesia dan partisipasi dalam pelestarian warisan nasional. Museum Tekstil Jakarta selalu berusaha menginformasikan dan mendidik orang melalui pameran, seminar, workshop, penelitian dan publikasi. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh pengunjung museum diantaranya mengunjungi pameran, mengikuti seminar,  belajar membuat batik dengan mengikuti workshop, dan dapat juga mengikuti acara-acara lain yang diadakan museum tekstil sesuai agenda kegiatan museum.
Visi Museum Tekstil Jakarta adalah Museum Tekstil sebagai institusi nirlaba yang menjadi pusat pelestarian alam dan budaya, media aktivitas ilmiah, seni dan budaya, pendidikan, informasi dan rekreasi budaya pendidikan yang menjadi salah satu referensi bagi proses pembangunan bangsa. Misi Museum Tekstil Jakarta adalah melaksanakan upaya konservasi dalam hal-hal yang berkaitan dengan budaya tekstil di Indonesia, melakukan inventarisasi sumber daya alam dan koleksi tekstil tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, dilakukan dokumentasi, kegiatan penelitian dan penyajian informasi dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat.
Gambar 4.2. Taman belakang gedung pameran

Museum Tekstil merupakan sebuah cagar budaya yang secara khusus mengumpulkan, mengawetkan, serta memamerkan karya-karya seni yang berkaitan dengan pertekstilan Indonesia. Bertempat di Jalan Aipda K.S. Tubun No.4, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, museum ini secara resmi dibuka pada tanggal 28 Juli 1976 dan berdiri dengan menempati gedung tua di atas areal seluas 16.410 meter persegi. Dalam sejarahnya, gedung yang digunakan sebagai museum ini dahulu merupakan rumah pribadi seorang warga keturunan Perancis yang hidup di abad ke-19. Namun gedung ini kemudian dijual pada seorang anggota konsulat Turki bernama Abdul Aziz Al Musawi Al Katiri. Pada tahun 1942, gedung ini dijual lagi kepada orang yang bernama Karel Cristian Cruq. Tidak begitu lama, gedung ini pun beralihtangan lagi dan dijadikan Markas Besar Barisan Keamanan Rakyat (BKR) pada saat menjelang kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1947, kepemilikan gedung ini dipegang oleh seseorang yang bernama Lie Sion Phin. Setelah beberapa kali beralih kepemilikan dan beralih fungsi, akhirnya pada tahun 1975, gedung ini diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta dan dijadikan sebagai Museum Tekstil. Peresmian Museum Tekstil dilakukan oleh Ibu Tien Soeharto pada tanggal 28 Juni 1976.
Sebagai sebuah museum tekstil terbesar di Indonesia, museum ini mempunyai koleksi-koleksi yang terhitung banyak, yakni sekitar 1.000 buah. Keistimewaan museum ini terletak pada koleksi-koleksinya yang kebanyakan merupakan koleksi tekstil tradisional Indonesia. Koleksi-koleksi tersebut dikelompokkan dalam empat bagian, yakni koleksi kain tenun, koleksi kain batik, koleksi peralatan, dan koleksi campuran.


 Gambar 4.3. Koleksi museum tekstil jakarta


Gambar 4.4. Koleksi museum tekstil jakarta

Gambar 4.5. Koleksi museum tekstil jakarta

Wisatawan yang berkunjung ke museum ini dapat menyaksikan aneka kain batik bermotif geometris sederhana hingga yang bermotif rumit, seperti batik Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Cirebon, Palembang, Madura, dan Riau. Selain itu, wisatawan juga dapat menyaksikan bendera Keraton Cirebon yang merupakan koleksi pilihan, karena usianya yang paling tua. Bendera itu terbuat dari bahan kapas berupa batik tulis yang berhias kaligrafi Arab. Bendera mirip plakat itu konon merupakan peninggalan bersejarah dari tahun 1776 M yang sangat disakralkan di Istana Cirebon. Pada saat itu bendera tersebut sering dipakai sebagai simbol syiar Islam.







KONSERVASI ARSITEKTUR - BAB 1



Nama : Bima Haryadi
NPM  : 22314172
Kelas  : 4TB06
Dosen : Agung Wahyudi, ST., MT



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. SEJARAH MUSEUM TEKSTIL JAKARTA
Museum Tekstil Jakarta didirikan pada tahun 1976 sebagai hasil dari upaya bersama yang dipelopori oleh Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Museum ini didirikan untuk menghormati Ibu Negara, Ibu Tien Soeharto dan diresmikan pada tanggal 28 Juni 1976.


  
     Gambar Gedung Museum Tekstil Jakarta
      Sumber: https://3.bp.blogspot.com

Pada pertengahan era 1970-an, penggunaan tekstil, pemahaman penggunaannya, serta jumlah dan mutu produksi, sudah sangat jelas menurun. Beberapa jenis tekstil bahkan sudah menjadi sangat langka. Hal inilah kemudian memotivasi beberapa warga terkemuka Jakarta untuk mendirikan sebuah lembaga yang didedikasikan untuk pelestarian dan penelitian tekstil Indonesia. Himpunan Wastraprema (Masyarakat Pecinta Tekstil) menyumbangkan koleksi dasar yang terdiri dari 500 tekstil bermutu tinggi. Pemerintah Provinsi menyediakan akomodasi berupa sebuah bangunan tua yang indah di daerah Tanah Abang Jakarta.
Dalam sejarahnya, gedung yang digunakan sebagai museum ini dahulu merupakan rumah pribadi seorang warga keturunan Perancis yang hidup di abad ke-19. Namun gedung ini kemudian dijual pada seorang anggota konsulat Turki bernama Abdul Aziz Al Musawi Al Katiri. Pada tahun 1942, gedung ini dijual lagi kepada orang yang bernama Karel Cristian Cruq. Tidak begitu lama, gedung ini pun beralihtangan lagi dan dijadikan Markas Besar Barisan Keamanan Rakyat (BKR) pada saat menjelang kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1947, kepemilikan gedung ini dipegang oleh seseorang yang bernama Lie Sion Phin. Setelah beberapa kali beralih kepemilikan dan beralih fungsi, akhirnya pada tahun 1975, gedung ini diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta dan dijadikan sebagai Museum Tekstil. Peresmian Museum Tekstil dilakukan oleh Ibu Tien Soeharto pada tanggal 28 Juni 1976.

Gambar 2.6. Galeri Batik Museum Tekstil Jakarta

Sebagai sebuah museum tekstil terbesar di Indonesia, museum ini mempunyai koleksi-koleksi yang terhitung banyak, yakni sekitar 1.000 buah. Keistimewaan museum ini terletak pada koleksi-koleksinya yang kebanyakan merupakan koleksi tekstil tradisional Indonesia. Koleksi-koleksi tersebut dikelompokkan dalam empat bagian, yakni koleksi kain tenun, koleksi kain batik, koleksi peralatan, dan koleksi campuran. Wisatawan yang berkunjung ke museum ini dapat menyaksikan aneka kain batik bermotif geometris sederhana hingga yang bermotif rumit, seperti batik Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Cirebon, Palembang, Madura, dan Riau.
Selain itu, wisatawan juga dapat menyaksikan bendera Keraton Cirebon yang merupakan koleksi pilihan, karena usianya yang paling tua. Bendera itu terbuat dari bahan kapas berupa batik tulis yang berhias kaligrafi Arab. Bendera mirip plakat itu konon merupakan peninggalan bersejarah dari tahun 1776 M yang sangat disakralkan di Istana Cirebon. Pada saat itu bendera tersebut sering dipakai sebagai simbol syiar Islam.
Selain memamerkan koleksi pertekstilan, di museum ini juga terdapat sebuah taman di halaman belakang yang diberi nama Taman Pewarna Alam. Taman seluas 2.000 meter persegi ini berisi pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam. Penanaman pohon-pohon itu bertujuan mendidik masyarakat agar mengenal dan mengetahui pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam.

        
Gambar 2.10. Pendopo Kreativitas Museum Tekstil Jakarta

Keistimewaan lainnya yang terdapat di museum ini adalah kursus membatik. Kursus ini dilaksanakan bersamaan dengan hari-hari buka museum. Kursus membuat batik ini dilaksanakan di sebuah bangunan yang terletak di halaman paling belakang Museum Tekstil. Bangunan ini bergaya rumah panggung lebar yang tak mempunyai sekat di dalamnya. Semua bahan bangunannya terbuat dari kayu dengan cat berwarna coklat tua. Di ruangan ini tidak terdapat pendingin ruangan (AC), karena telah terdapat beberapa jendela yang mengelilingi ruangan untuk mengalirkan udara segar.








sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Tekstil
https://museumtekstiljakarta.com/01_sejarah.php




 

Blogger news

Blogroll

About