Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Architecture of Gunadarma University. My Dream = Senior Architect!!! :')
Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 19 April 2016

Tugas Soft Skill Review Film


Bima Haryadi
22314172
2TB06

REVIW FILM “TANAH SURGA, KATANYA”


Judul              : Tanah Surga, Katanya
Sutradara       : Herwin Novianto
Tahun             : 2012
Genre             : Drama
Durasi             : 90 menit
Pemeran         : Aji Santosa, Fuad Idris, Ence Bagus, Astri Nudrin, Ringgo Agus
  Rahman, Hengky Solaeman
Penulis            : Danial Rifki
Produser         : Deddy Mizwar, Gatot Brajamusti, Bustal Nawawi

Alasan saya memilih film ini adalah karena temanya yang bagus, yaitu mengenai nasionalisme, namun juga terdapat sedikit unsur politik dan kemanusiaan pada film ini. Selain itu adalah karena film ini merupakan film yang terlihat menarik dengan latar tempat di Pulau Kalimantan dengan pesona hutannya yang masih alami serta tentunya karena nilai-nilai yang ingin saya ambil dari film ini.
Tanah Surga, Katanya. Film ini menceritakan betapa besarnya kecintaan seorang kakek bernama Hasyim terhadap tanah air Indonesia. Kakek ini tinggal di sebuah desa terpencil di Pulau Kalimantan yang berada di perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Dulu beliau merupakan salah satu orang yang turut memperjuangkan Indonesia saat konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan melakukan peperangan dengan Malaysia. Maka pada saat itu muncul istilah dwikora yang meruopakan slogan Bung Karno yang berisi perhebat ketahanan revolusi Indonesia, lalu bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Serawak, dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia. Aksi ini dilakukn karena Bung Karno menganggap bahwa Malaysia tidak menghormati Indonesia dengan melihat perlakuan yang sudah dilakukan oleh Malaysia yang sudah terlewat batas terhadap Indonesia seperti merobek foto Soekarno dan menginjak lambang garuda.
            Kembali pada cerita film, desa tempat kakek Hasyim tinggal, dapat dibilang merupakan desa yang masih tertinggal. Keadaan desa ini sungguh membuat kita sebagai orang Indonesia menjadi miris melihat keadaan di desa ini. Di desa ini, hanya ada satu sekolah untuk siswa kelas 3 dan kelas 4 SD. Bangunan sekolah di desa itu juga sangat tidak layak, hanya terbuat dari kayu yang sudah lapuk. Begitupula dengan fasilitas dan seragam yang dikenakan oleh siswa-siswa di sekolah ini. Pendidikan disana masih sangat jauh tertinggal dengan kita yang berda di Pulau Jawa. Guru yang mengajar di sekolah ini hanya tersedia satu orang guru. Selain pendidikan, sarana prasarana yang mendukung kesehatan warga di desa ini sangat minim. Hanya ada satu orang dokter di desa ini. Sumber listrik dan akses ke kota yang sulit membuat banyak warga di desa ini lebih memilih bekerja di Malaysia karena mereka menganggap kehidupan di Malaysia lebih sejahtera. Termasuk anak kakek Hasyim yang kini memilih untuk menetap di Malaysia. Karena di desa ini memang tingkat kesejahteraan masyarakatnya masih rendah.
            Kakek Hasyim memiliki dua orang cucu bernama Salman dan Salina. Beliau sering menceritakan kepada cucunya mengenai negara Inonesia dan sejarah bagaimana beliau memperjuangkan Indonesia pada saat konfrontasi dengan Malaysia. Hingga pada akhirnya ayah Salman dan Salina datang untuk mengajak kakek Hasyim dan anaknya tinggal di Malaysia. Namun kakek Hasyim bersikeras untuk tetap tinggal di tanah kelahirannya, Indonesia, karena kecintaannya terhadap Indonesia. Salman pun ingin tetap tinggal di Indonesia bersama kakeknya karena Salman memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi terhadap Indonesia. Salina, adik Salman, meskipun ia ikut ayahnya tinggal di Malaysia namun kecintaannya terhadap Indonesia juga tetap terpatri di dalam hati.
            Menurut saya, cerita pada fim ini kurang memberikan penekanan pada konflik kerena konflik pada cerita di film ini dibuat tidak mencapai klimaks. Padahal pengemasan cerita di film ini sudah sangat bagus dengan didukung oleh pemeran-pemerannya yang dapat mendalami peran masing-masing dan pengambilan gambar dengan latar tempat yang sangat sesuai. Lagu yang diputar pada film salah satunya lagu Tanah Airku juga melengkapi suasana pada film ini dan membuat penonton lebih dapat meresapinya. Bahasa yang digunakan mudah dimengerti walaupun menggunakan logat melayu tetapi tetap menggunakan bahasa Indonesia serta cerita dalam film juga mudah dimengerti bagi penontonnya.
            Film ini mungkin lebih menekankan pada pesan moral yang ingin disampaikan oleh pembuat film kepada penonton. Banyak pesan moral yang tentunya membuat hati penontonnya terenyuh setelah menonton film ini. Pesan moral yang langsung dapat ditangkap oleh penonton adalah kecintaan terhadap tanah air. Indonesia adalah tanah kelahiran kita, tempat dimana kita dibesarkan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita mencintai tanah air kita sepenuh hati. Dalam film ini ada tiga peran yang sangat menunjukkan kecintaan tanah air, yang pertama adalah Salman yang dengan usaha dan kerja kerasnya ingin menebus bendera merah putihyang dijadikan pembungkus barang oleh orang Malaysia, selanjutnya adalah kakek Hasyim yang begitu menghayati dan berdiri dengan tegaknya sebagai penghormatan saat bendera merah putih dikibarkan di sekolah Salman, dan terakhir sekaligus sebagai penutup film yang menurut saya sangat bagus yaitu Salina yang menggambar bendera merah putih di depan rumah serta ada 4 orang dalam gambar tersebut yaitu ia sediri, Salman, yahnya, dan kakeknya. Saat ayahnya sedang menonton dan menjadi pendukung tim sepak bola Malaysia, saat bersorak atas kemenangan Malaysia bertepatan dengan berita wafatnya kakek Hasyim sebagai ayah dari ayah Salina, lalu dalam momen itu pula gambar yang digambarkan oleh Salina ditunjukkan kepada ayahnya. Menurut saya itu adalah penutup film yang sukses menyentuh hati penontonnya.
            Pesan lainnya yang ingin disampaikan oleh pembuat film adalah kesadaran akan kepedulian kita terhadp sesama rakyat Indonesia. Seharusnya, pemerintah Indonesia melakukan pemerataan terhadap kesejahteraan rakyat ke seluruh pelosok-pelosok negara Indonesia karena masih banyak desa tertinggal yang ada di Indonesia. Selain itu, film ini mengajarkan kepada kita untuk tidak menyerah dalam menggapai cita-cita seperti yang digambarkan oleh sosok Salman yang tidak akan menyerah mengejar cita-cianya untuk memperoleh kesejahteran yang lebih baik lagi dengan keteguhan hati ia tetap ingin berada di Indonesia walaupun di negeri sebelah lebih menjanjikan kesejahteraan padanya. Salman bercita-cita ingin membuat Indonesia menjadi lebih baik sesuai pesan kakeknya sebelum meninggal kepada Salman.
            Memang untuk membuat negara Indonesia tidaklah mudah. Dengan wilayah yang sangat luas serta jumlah penduduk yang sangat banyak tentu sangat sulit untuk mengatur negara Indnesia dalam mengolola kekayaan sumber daya yang kita miliki. Untuk mencapai itu pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Karena hal tersebut dapat dilakukan jika semua pihak saling mendukung dan memiliki kesadaran masing-masing untuk bersma-sama memajukan negara Indonesia.
            Menurut saya, film ini sangat bagus untuk ditonton oleh semua kalangan, baik itu anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Film ini menanamkan jiwa nasionalisme dalam diri kita terhadap tanah air dan membuat kita tersadar untuk lebih mencintai Indonesia dan tergerak untuk melakukan perubahan yang positif. Betapa banyak kekayaan di negeri kita yang tidak dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Akibatnya, banyak orang dari negara lain yang memanfaatkan potensi di Indonesia dengan baik, sehingga perlahan-lahan kekayaan Indonesia diambil alih oleh orang asing.
            Dari segi kemanusiaan, film ini menggambarkan bahwa belum semua rakyat Indonesia terpenuhi hak asasinya. Padahal negara Indonesia sudah merdeka sejak lama. Namun masih ada rakyat Indonesia yang belum mendapatkan kesejahteraan hidup atau kesejahteraan yang tidak merata bagi seluruh rakya  Indonesia, seperti warga-warga yang berada di desa perbatasan Indonesia-Malaysia dalam film ini. Warga-warga yang tinggal di desa terpencil kebanyakan belum mendapatkan layanan pendidikan dan kesehatan yang layak.
            Sebagai penutup, sebenarnya tidak ada yang ingin saya kritik dari film ini, karena menurut saya secara keseluruhan film ini terkemas dengan apik dan pesan untuk penonton juga tersampaikan dengan baik. Justru saya berharap di Indonesia banyak  menayangkan film yang mengangkat tema nasionalisme seperti ini karena nilai-nilai yang ditanamkan sangatlah bagus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About